tempat sementara untuk menuliskan kejadian yang berlangsung sementara dan dalam kita hidup di dunia yang sementara ini..

Sabtu, 06 Februari 2010

tulisan kedelapan

Tulisan ini hadir di tengah-tengah kegamangan saya untuk menulis. Gamang karena banyak sekali hal yang semestinya saya lakukan, tetapi saya belum bisa melakukan semuanya.
Saat diri ini kembali mengingat-ingat kejadian masa lampau, banyak hal yang bissa kita ambil dari pengalaman yang terjadi. Bermula dari situlah cerita ini dimulai.
Semoga, kehadirannya bisa mengembalikan semangat saya untuk terus bedinamisasi.
Selamat membaca!


BINTANG TERANG DI GALAKSI KITA


Kalau ada anak manusia yang bisa memperoleh impiannya dengan keterbatasan yang ada, mungkin itulah teman saya. Dan jika disebutkan, Indonesia adalah negara yang besar dengan berbagai macam suku dengan orang jawa sebagai suku terbanyak dan paling dominan, mungkin teman saya salah satunya. Bukan bermaksud rasis, karena memang di negeri ini didominasi oleh orang Jawa dengan profesi dari mulai akar rumput sampai pucuk pohon cemara. Boleh dikatakan, tidak merugi bangsa ini memiliki putra seperti dia yang dengan kemampuan berpikirnya bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya di kancah internasional. Sehingga, paling tidak bangsa kita dapat menegakkan kepalanya dalam bidang akademis di depan bangsa-bangsa lain. Walaupun nantinya, bocah-bocah seperti teman saya tadi bersedia untuk tinggal bukan di Indonesia dan lebih memilih mencari ilmu dan pekerjaan di negara-negara lain. Bukan masalah nasionalisme atau patriotisme saya kira. Semua memang begitu adanya, adalah wajar apabila manusia mencari yang terbaik bagi kehidupannya.

Manusia adalah makhluk yang unik. Makhluk terunik yang pernah saya temui, paling tidak sampai saat ini. Makhluk yang senantiasa berkembang, bukan hanya dari segi fisik, akan tetapi dari segi pemikiran dan akal. Yang darinya bisa bersumber sesuatu yang maha dahsyat, yang berpengaruh tidak hanya kepada manusia tersebut, akan tetapi seluruh dunia ini. Sehingga tidak berlebihan apabila saya menyebutkan, MANUSIA BISA MENJADI APA SAJA. Seperti teman saya,Fahim, yang kebetulan dikaruniai otak yang cemerlang. Anak kampung yang belajar pada almamater yang sama dengan saya di tingkat Sekolah Menengah Atas. Anak yang suka merenung, sama seperti saya sebetulnya. Mungkin bedanya, dia merenungkan tentang permasalahan-permasalahan eksakta yang ia peroleh dalam kegiatan belajar-mengajar. Sedangkan saya, merenungkan kegiatan belajar-mengajar juga, tapi kebanyakan dibumbui oleh perenungan masalah hati atau masalah-masalah yang memang menarik perhatian bagi saya.

Seringkali kami berbincang dengannya dan beberapa teman yang lainnya di masjid sekolah kami. Karena kebetulan, kami tergabung dalam remaja masjid sewaktu itu. Cukup positif,bukan?

Selepas waktu dhuha di istirahat pertama, perbincangan kecil biasa terjadi. Perbincangan apa sih yang dilakukan oleh kebanyakan anak tingkat Sekolah Menengah Atas? Paling-paling tidak jauh dari masalah pelajaran, masalah dengan teman atau pengajar, dan masalah dengan lawan jenis. Tapi lebih dari itu, kami beberapa kali memperbincangkan masalah yang unik. Karena beberapa dari kami mempunyai kesenangan di bidang masing-masing. Dana, yang kebetulan tertarik dengan pelajaran Fisika saat itu selalu menceritakan ketertarikannya mengenai teori mekanika. Dari mulai Newton sampai Einstein. Walaupun bagi kami saat itu pemikiran-pemikiran Fisika Teori sangat asing, tapi kami tetap memikirkannya.

Ini akibat suatu kali pertanyaanku : “Untuk apa kita memikirkan itu semua, Dan? Kita belum punya kepentingan dengan hal itu. Marilah kita bahas hal-hal yang ringan saja. Seperti mengapa kemarin kau ketiduran di kelas?”

“Jangan begitu, Kawan.. Ini hal penting. Kita diberikan kesempatan untuk belajar dan bersyukurlah kita masih diberi kecukupan untuk menerimanya. Mungkin nanti kita tidak akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dasar kita, tapi tidak maukah otakmu terbiar begitu saja? Kasihan, Zal.. Dia perlu makanan, sebagaimana tubuh kita memerlukan nutrisi. Makanlah apa saja yang masuk ke otakmu, Zal. Serap.. Saripatikan.. Biarkan ia mencari jawaban kebenaran dalam alam bawah sadarmu. Seperti kata Einstein ketika ia kembali menyusun semua bukti-bukti yang ia kumpulkan dan selalu ia perhitungkan, ia mengatakan: Semua hanya untuk memenuhi kebutuhan berpikir saya”, “begitu,Zal”

Jawaban panjang yang membuat saya berpikir. Karena sebelumnya saya ingin mencemoohnya karena dia ketiduran di kelas. Tapi rupanya, inilah yang membukakan pikiran saya sewaktu itu bahwa memang sebuah ilmu, apapun, tidak ada salahnya untuk kita ketahui. Dalamnya banyak hikmah yang dapat kita ambil. Dan memang, ketika saya memikirkan suatu soal Fisika yang sulit saya pecahkan saya akan mengingatnya terus sampai terbawa mimpi dan paginya akan muncul suatu rancangan solusi dan setelah saya coba merangkainya, Viola!! Semuanya nyata. Boleh jadi, itu yang disebut ilham.

Setiap perbincangan ringan diantara kami, Fahim tidak banyak bersuara. Ia lebih senang berdiam diri sambil memperhatikan. Mungkin karena ia satu-satunya anak tingkat 1 yang ikut bergabung besama kami. Ya, Fahim 2 tahun di bawah saya dan teman-teman diskusi saya. Dia masuk ke almamater tercinta kami ketika saya naik kelas 3. Jangan heran apabila ia akrab dengan kami yang dua tingkat di atasnya. Rumah Fahim yang berada jauh di pelosok desa, serta ekonomi yang pas-pasan dari keluarganya membuatnya memikirkan berbagai macam cara agar terus dapat bersekolah tanpa terlalu membebani kedua orang tuanya yang bekerja sebagai petani garap di desanya.

Kebetulan, di Masjid sekolah kami terdapat sebuah ruangan mirip kamar di ujung sekretariat perkumpulan remaja masjid. Kamar yang cukup untuk tidur dan tempat baju serta keperluan sehari-hari. Dengan dibantu teman-teman remaja Masjid, akhirnya kami berhasil menjelaskan kepada Pembina Remaja Masjid agar Fahim dibolehkan untuk tinggal di kamar tersebut. Tapi tentunya dengan syarat; dia harus selalu tanggap terhadap kebersihan Masjid dan linkgungan sekitar. Sejak itulah, predikat James Bon disandang Fahim. Jaga Mesjid dan Kebon. Bukan merupakan suatu kenistaan saya kira. Justeru sebuah kemuliaan. Karena disamping kita telah meringankan beban orang tua, kita diberi kesempatan untuk terus berbuat baik untuk senantiasa membersihkan tempat ibadah kita.

Perkumpulan ba’da shalat dhuha kami sebenarnya tidak memiliki anggota yang tetap. Semuanya berjalan begitu saja. Setiap kali selesai melaksanakan ibadah sunnah dhuha, kami berkumpul begitu saja dan berbincang apa saja yang menarik hati kami saat itu. Tetapi, bila diukur dari seringnya wajah-wajah yang hadir, sekurang-kurangnya ada 5 anggota tetap ngerumpi ba’da dhuha. Fahim, Dana-yang saya ceritakan tadi, Ircham, Izaz, dan saya sendiri .

*

Bila dilihat dari sisi umur dan motivasi belajar kala itu, saya menemukan kesamaan antara kami. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang berkecukupan. Maksudnya, mempunyai uang yang benar-benar cukup untuk kehidupan sehari-hari, penghasilan orang tua yang benar-benar cukup untuk membiayai sekolah kami. serta "kecukupan-kecukupan” lainnya. Kecuali Izaz,mungkin. Yang kedua orang tuanya bekerja sebagai PNS guru. Kecukupan inilah, yang mau tidak mau membuat kita untuk tidak melewatkan kesempatan untuk mereguk setiap pengetahuan di sekeliling kami. Seperti ketika ada pengumuman untuk mengikuti Olimpiade Matematika yang diadakan oleh salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Semarang kala saya menginjak tingkat tiga. Cukup terlambat sebenarnya, karena biasanya spesialis Olimpiade Sains sudah dipersiapkan sedari tingkat satu atau pertama kali masuk sekolah, seperti yang Fahim alami. Secara otomatis dia masuk kelas khusus untuk mengikuti pembinaan di luar jam sekolah. Tapi kali ini, berhubung beberapa dari kami dekat dengan Pembina Lomba, kami (Saya dan Ircham) ditawari untuk mengikutinya. Itung-itung untuk pengalaman, kata beliau. Dana kala itu sudah mengikuti kelas Olimpiade Fisika dan memang disanalah tempatnya. Kamipun menyanggupi dan mengikuti prakualifikasi tingkat sekolah. Waktu itu dalam satu kelas pembinaan Olimpiade ada lima belas anak dan kebijakan sekolah mengirimkan 6 wakilnya, termasuk tingkat tiga yang ikut sebagai peserta penggembira. Saya dan Ircham cuek saja. Dan hasilnya tidak cukup mengecewakan (pastinya, karena kami berdua sudah tingkat tiga, sedang kelima belas lainnya tingkat satu dan dua^^), kamipun mendapat tiket untuk berangkat ke kota Purwokerto, tempat perlombaan diadakan.

Dalam persiapan menghadapi Perlombaan saya cuek saja. Toh ada yang lebih perlu diperhatikan, yaitu kemana saya akan melanjutkan pendidikan setelah lulus nantinya. Beda dengan Fahim yang senantiasa merenung. Berkutat dengan soal-soal latihan yang ada di depannya. Sesekali pernah kami berkumpul di serambi Masjid untuk “menekuni soal latihan bersama”, ada beberapa soal (mungkin lebih bijak bila saya sebut banyak.haha) yang tidak dimengerti.

“Eh, ada yang tau penyelesaian soal cerita ini tidak?”, tanyaku pada Ircham, Fahim dan tiga orang temannya yang lain.

Kutunjukan soal cerita yang intinya adalah suatu kalimat yang mesti dikonversi ke dalam model matematika serta mencari pemecahan dari problem tadi. Sayangnya, saya sudah lupa sekarang detil soalnya.

Karena beberapa dari kami termasuk orang yang sudah mempunyai kualifikasi, tentunya sangat tidak elegan apabila tidak ada yang berpendapat barang sepatah dua patah angka.

“Em, coba kalau begini..” Ircham mencoba menunjukan sebuah paket penyelesaian bagiku. Seorang anak yang cukup di atas biasa. Karena waktu itu Ia justeru mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial ketimbang Ilmu Pengetahuan Alam kendati kemampuan di bidang eksakta-nya baik. Ia tak ingin membuang waktunya untuk belajar IPA, alasannya. Karena memang sudah fokus akan mengambil sebuah sekolah kedinasan di bidang akuntansi. Kelak ia akan satu almamater lagi dengan saya. Anehnya, Ia lulus dalam prakualifikasi Lomba Matematika ini.

“…tapi jadinya ga klop ya? Wahh..ndak ketemu hasilnyaaa… >_<”!@^&@#!!” dasar aneh, menjelaskan ke saya seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Itulah Ircham.

“Iya, tidak cocok juga kalo pake model matematika seperti itu..” saya mengamini keputus-asaan Ircham.

“Bagaimana kalau seperti ini, Mas?” Fahim menyodorkan secarik kertas berisi rumus-rumus integral, turunan, kombinasi trigonometri yang sebagian tidak familiar dengan mata saya. dan.. apa ini? Mengapa banyak simbol seperti cacing berdiri tegak sebanyak ini? Ada tiga berderet.. jangankan dua, satu saja saya masih kewalahan..

“hem..kelihatannya ini solusi yang mendekati kecocokan dengan problem yang disajikan, Him..” responku setelah ada tiga menitan aku memandangi kertas yang disodorkannya.

“Tapi,Him.. Bisakah kau menjelaskannya padaku??”, lanjutku, dengan menatapnya iba dan penuh dengan ketidakmengertian.

*

Ada seorang lagi yang belum kuceritakan, Izaz. Teman yang berasal dari luar kota kami. Yang dari segi kemampuan ekonomi cukup berada, karena saat itu dia satu-satunya siswa yang memegang kartu Automatic Teller Machine diantara kami sewaktu itu. Teman yang cukup eksentrik. Dengan cukuran rambut tipis pada kedua pinggirannya serta dibuat agak tegak rambut ditengah kepalanya. Izaz tinggal di rumah kost dekat dengan sekolah kami, sehingga seringkali pulang sore hari sekedar melihat saya, Ircham dan Fahim berkegiatan atau mengobrol dengan kami. Walaupun dalam hal akademis di kelas kurang begitu terlihat, tapi saya yakin, Izaz adalah anak yang cerdas. Kita tentu sering menemui seorang anak yang suka bermain dan malas untuk belajar tapi apabila ditanya tentang pelajaran tahu. Sebatas tau dan mengerti karena bagi orang-orang seperti mereka ada hal yang lebih menarik perhatian ketimbang pelajaran di sekolahan.

Satu hal yang menyamakan saya dengan Izaz adalah kesenangan untuk bermain tebak-tebakan. Saya saat itu sedang gemar-gemarnya membaca komik-komik detektif. Dari serial Detektif Conan, Kindaichi, Q Detective School, Q.E.D, sampai serial detektif yang sepotong-sepotong diterbitkan. Entah belum masuk ke Indonesia atau pengarang di Jepang sana masih kesulitan untuk mencari idenya. Keranjingan saya terhadap cerita detektif dan misteri dimulai dari Izaz yang setiap pulang sekolah menyempatkan mampir di sebuah tempat persewaan komik di depan sekolah kami. Suatu waktu, Ia mengajak saya untuk menemaninya. Saat itu, iseng saja saya meminjam komik salah satu serial detektif, dan semenjak itulah saya rutin menyisihkan uang jajan saya untuk meminjam komik di akhir pekan.

Salah satu mengapa saya mengatakan Izaz cerdas adalah saat kami berkumpul untuk bermain tebak-tebakan. Kebiasaan saya sewaktu itu apabila ada waktu luang adalah membuat soal tebak-tebakan. Masih teringat saat saya kembali menanyakan soal tebak-tebakan dari salah satu program di televisi yang menghadirkan Master mentalist Indonesia. Pikir saya, Izaz tinggal di kosan. Setau saya di kamarnya tidak ada televisi, Dana-pun begitu, sama-sama tinggal di kosan, Fahim tinggal di Masjid yang praktis tidak ada televisi. Tinggal Ircham yang mempunyai kemungkinan melihat acara televisi tersebut. Tetapi dengan pertimbangan kalau Ircham tidak senang menonton televisi karena Ia lebih suka membaca, saya tanyakan soal tebak-tebakan kepada teman-teman.

“Zaz, ada tebak-tebakan nih..”, ucap saya saat kami berkumpul di serambi Masjid.

“Apa itu, Zal?”,Izaz langsung menampakkan ketertarikannya.

“Jadi begini..”, dengan gaya serius saya melanjutkan “Ada 3 orang yang berkunjung ke sebuah restaurant untuk memesan paket hemat. Harga satu paketnya adalah Rp. 10.000,-. Karena mereka membeli tiga, mendapatkan potongan harga Rp 5.000,-“, saya diam sejenak melihat reaksi air muka mereka yang mulai serius.

“Karena mereka bertiga, uang Rp 5.000,- tadi tidak genap habis dibagi tiga. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama, masing-masing mendapatkan kembalian Rp. 1000,-. Uang sejumlah Rp 2.000,- diberikan kepada pelayan sebagai tips.”

“Nah! Masalahnya ..”, saya buat agak didramatisasi, “seseorang dari mereka kembali menghitung uangnya. Jika mereka mendapatkan kembalian Rp 1.000,- berarti masing-masing membayar sejumlah Rp 9.000,- untuk makan mereka, sedangkan yang dipelayan Rp 2.000,- berarti total uang mereka Rp 29.000,-. Padahal iuran mereka terkumpul Rp 30.000,-. Kemanakah uang Rp 1.000,-??”, cukup puas saya melihat kernyitan-kernyitan di atas alis teman-teman, kecuali Izaz yang sedari tadi senyum-senyum.

“Bentar Zal, coba ulangi proses hilangnya uang Rp 1.000,- tadi”, Dana bertanya.

“Tadi ketiga orang tersebut mendapat kembalian Rp 1.000,-, berarti masing-masing orang mengeluarkan uang Rp 9.000. Betul?”

“Betul, Zal”

“Berarti bila dikalikan 3, uang yang terkumpul Rp 27.000,-. Betul?”

“Betul, Zal”

“Nah, uang yang lainnya, sejumlah Rp 2.000,- diberikan kepada pelayan sebagai tips. Ini berarti uang total yang mereka kumpulkan adalah Rp 27.000,- + Rp 2.000,- = Rp 29.000. Betul?”

“Iya.. Betul Juga yaa..”, Jawab dana sambil berpikir.

“Salaaahhh”, Izaz menyela sambil setengah ketawa. “Coba kau ulang sekali lagi, Zal”

Agak bosan sebenarnya saya mengulang untuk ketiga kalinya. Karena apabila diulang-ulang, kuis ini bisa dipecahkan. Tetapi karena teman-teman merajuk, saya memenuhi permintaan Izaz.

“Tiga orang tersebut mendapat kembalian Rp 1.000,-, berarti masing-masing orang mengeluarkan uang Rp 9.000,-“

“Benar”, sahut Izaz.

“Bila dikalikan 3, uang yang terkumpul Rp 27.000”

“Masih benar”

“Berarti uang yang terkumpul, Rp 27.000,- ditambah dengan Rp 2.000,- yang ada di pelayan, hanya Rp 29.000”

“Tidak benar! Hehehe.. Jangan kau bohongi temanmu ini, Zal”, sambil meringis Izaz menimpali. Suatu style yang khas darinya; terlihat cengengesan (ketawa dan tidak serius dalam berbicara)

“Sekarang begini, jika tiap orang mendapat kembalian Rp 1.000,- berarti total biaya yang dikeluarkan tiap orang Rp 9.000,-, bukan?“ Izaz balik bertanya, sial..

“Yaa..” saya jawab malas saja.

“Perhatikan teman-teman, TOTAL BIAYA. Ini berarti jumlah yang dikeluarkan untuk membeli makanan dan tips untuk pelayan”, dengan mata berbinar-binar Izaz menjelaskan “Jika ada pernyataan total biaya yang dikeluarkan oleh ketiga orang tadi sejumlah Rp 27.000,- ditambah Rp 2.000,-, maka itu salah. Kenapa? Karena Rp. 2.000,- itu termasuk dalam biaya 27.000 yang dibayar bertiga. Jadi total uang mereka bertiga yang benar, Rp 27.000,- ditambah dengan Rp 1.000 yang dikembalikan kepada masing-masing orang dikali 3. Tetap, Rp 30.000,-. Hehehe..“

“Bukan begitu, Zal?”

“Iya, betul..” tak disangka, Izaz bisa menjelaskan dengan baik.

“Benar, Zal. Bukan betul. Karena kita mencari kebenaran, bukan kebetulan”

Yah, begitulah Izaz.

*

Kembali kepada perlombaan matematika yang saya ikuti. Motivasi untuk mengikutinya tak lebih untuk sekedar mengetahui tingkat kemampuan saya dengan anak-anak pilihan ini. Serta merasakan aroma persaingan yang kental ketika saya mengikuti sebuah kompetisi. Akan sangat terasa atmosfernya. Beda dengan suasana saat ujian tengah semester atau akhir semester. Ada aroma yang tercium dari otak-otak para pemikir yang nantinya akan menjadi penampuk beban bangsa. Melihat mata-mata yang berkilat lincah, yang tajam memandang dengan mata telanjang atau yang tersembunyi di balik bingkai kaca mata karena terlalu banyak dipaksa untuk memahami bahan yang akan dimasukkan ke dalam otaknya.

Pertemuan antara tunas-tunas bangsa dimulai disini. Fahim, yang sudah kedua kalinya mengikuti perlombaan serupa tentunya sudah mempunyai kawan dari sekolah lain yang juga langganan lomba seperti ini. Saya yang sebagai penggembira disini ingin juga berkenalan dengan manusia-manusia pemikir disini. Sempat saya berkenalan dengan beberapa siswa lokal dan atau yang berasal dari luar kota. Salah satu yang berkesan ketika berkenalan dengan dengan kawan yang berasal dari salah satu sekolah favorit di kota satria itu, Sophia Alphabeta. Nama yang unik, seunik dirinya. Dengan wajah tirus serius dihias kacamata berbingkai hitam dan pandangan yang tajam. Mengisyaratkan banyaknya ilmu yang terserap melalui dua bola matanya. Sampai-sampai, ada kekaguman tersendiri terhadap dirinya yang membuat saya menemukan analogi Phi-Alpha, Everywhere and The First. Phi, bilangan yang senantiasa ada di alam semesta. Yang melekat pada penghitungan volume atau garis edar benda-benda angkasa. Dan Alpha, abjad pertama dalam huruf Yunani sebagai perlambang permulaan sebuah peristiwa. Phi, yang ada dimana-mana dan Alpha, yang pertama. Yang terbayang dimana-mana dan yang pertama saya ingat.. kala itu. Sebuah nama yang menurut khayalan saya waktu itu cocok untuk sebuah perkumpulan mahasiswa di Massachusetts Institute Of Technology. Sebuah Institut yang menjadi kebanggan Dana dan juga saya.

Boleh dikatakan, disinilah batu loncatan bagi Fahim untuk menggapai jenjang karirnya untuk terus menjadi pemikir sejati. Pengumuman hasil Lomba, menempatkan Fahim pada urutan nomor 3 yang waktu itu Ia baru menginjak tahun pertama di sekolah Menengah Atas. Dan jangan tanyakan bagaimana nasib saya dan Ircham, masih untung tidak finish di setengah bawah peringkat. Memang begitulah orang Jawa, segala sesuatu yang terjadi selalu dianggap menguntungkan.

*

Sebelum kelulusan, kami sempat berkumpul. Kutanyakan kepada Fahim tentang rencana hidupnya selepas SMA nanti.

“Berencana melanjutkan kemana Him setelah lulus?”

“Inginnya ke ITB mas, atau kalau tidak Universitas Indonesia”, jawab Fahim.

“Mengapa tidak kau pilih jalur kedinasan saja, Him? Disamping meringankan beban orang tua, setelah lulus kita tidak perlu repot mencari kerja.”, saran saya.

“Wah.. Maaf, Mas. Aku tidak tertarik dengan itu. Aku masih ingin mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan alam. Ingin mempelajari lebih dalam sunnah-sunnahNya, Mas.” jelas Fahim “Untuk masalah biaya, Aku yakin, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha. Bukankah hidup itu seperti mosaik?”, Fahim menanyakan kembali pernyataan yang pernah saya sampaikan kepada teman-teman saat berkumpul bersama.

“Benar, Him.. setiap langkah kita saat ini akan menentukan bentuk kehidupan kita setelah ini. Setiap kebaikan yang kauperbuat telah mengubah satu derajat kehidupan selanjutnya ke arah kebaikan.”

“Satu derajat saja, Him..”, saya melanjutkan, “Jika kamu memperhatikan, jarak yang terbentuk dari dua garis dengan panjang 10 sentimeter yang membentuk sudut satu derajat adalah 0,17 sentimeter, Him.”

“Itu baru sepuluh senti, Him.. Bagaimana jika panjang kedua garis tadi seratus meter atau beratus-ratus kilometer. Tentu simpangan yang terjadi akan semakin melebar dan panjang. Sama halnya dengan panjangnya kehidupan kita, Him. Belum terasa efek dari apa yang kita perbuat kemarin. Tetapi akan terasa betul kelak.”, agaknya saya terlalu berlebihan menjelaskan hal tersebut kepada pemegang medali perak internasional. Tapi memang begitulah terkadang saya, mengaitkan sesuatu dengan seuatu hal yang memang mempunyai suatu kaitan.

“Iya, Insya Allah akan terus berusaha melaksanakan yang terbaik pada kondisi apapun aku sekarang, Mas”, “mohon doanya dan semoga Allah menunjukkanku jalan yang terbaik”, ucap Fahim ssaat sebelum beranjak masuk ke kelas.

“Pasti, Him. Semoga jalanmu dimudahkan”, jawabku lirih.

Semenjak mewakili provinsi sebagai salah satu duta untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional, Fahim mendapatkan perlakuan khusus dari pihak sekolah. Mengikuti pembinaan bersama Guru yang sudah berpengalaman atau pengkonsentrasian untuk persiapan selama beberapa bulan di Ibukota membuat Fahim tidak berkumpul lagi dengan kami. Kesibukan-kesibukan tingkat tigapun melanda. Saya, Ircham, Izaz, dan Dana kembali harus memikirkan akan melanjutkan ke pendidikan formal manakah kita. Karena memang harus melalui pendidikan formal kemampuan kita akan diakui. Sebuah institusi untuk mendapatkan pengakuan yang legal dari institusi yang lebih besar dan plural, masyarakat. Kendati, untuk masuk ke dalamnya membutuhkan perjuangan yang berat. Yang menjadikan kedua orang tua kami harus memikirkan biaya tambahan yang lumayan besar, untuk ukuran kami saat itu. Terkecuali, Izaz, mungkin. Sehingga, kadang muncul dalam benak saya saat itu; dua hal yang mesti dihindari orang yang “berkecukupan”: Sakit dan Pendidikan Tinggi. Tapi setelah menjalaninya, saya meralatnya menjadi; Dua hal yang mesti dihindari orang yang tidak mempunyai tekad.

Tekadlah yang menjadikan kami memperoleh pencapaian kami. Saya dan Ircham berhasil masuk sebuah Sekolah Kedinasan yang tentunya sangat meringankan kedua orang tua kami. Dana mendapatkan paket beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di bidang teknik pada sebuah Universitas Negeri. Sedang Izaz, yang masih dengan keunikannya melanjutan hobby berkreasinya dalam jurusan gambar-menggambar dan konstruksi bangunan.

Perjalanan sebuah galaksi pembelajar. Yang lahir dari sebuah ketiadaan. Kemudian membentuk kabut pemahaman dan membentuk individu-individu yang berkembang. Mengembang dan terus mengembang. Sampai batasnya nanti apabila diketemukan kembali oleh takdir atau harus fana karena sifatnya.

Tentang Fahim, berita keikutsertaan dia di International Mathematic Olympic saya dapat sewaktu saya kuliah. Penghargaan Honourable Mention pada kesempatan pertama dan medali perak pada kesempatan tahun berikutnya membuatku bangga. Karena ternyata bintang yang satu ini sangat bersinar terang sebagaimana Sirius, bintang terterang yang terlihat dari bumi setelah matahari yang berjarak 8,6 tahun cahaya dari bumi. Penghargaan ini membawanya mendapatkan beasiswa Strata Satu di Universitas Indonesia.

Jika mengingatnya, membuat saya kembali sepeti memiliki penyemangat untuk terus mencapai sebuah pencapaian yang sudah saya tentukan sebelumnya. Karena bagaimana kita sekarang, mengapa kita sekarang, apakah kita sekarang, kesemuanya berawal dari kita berbuat apa. Sering saya berpikir ,saat duduk di dalam kereta dalam kota yang terisi penuh sesak oleh penumpang, apakah yang menjadi tujuan dalam kepala mereka. Apakah ada hal yang sama, satu saja, yang mereka pikirkan saat itu sama dengan apa yang saya pikirkan saat itu juga. Ada yang bergelantungan di muka kereta dan depan pintu tanpa mempedulikan nyawanya. Ada yang duduk di atas atap kereta dibawah kawat bertegangan listrik luar biasa. Ada pula yang berjalan mengesot, mengusap-usap sampah di lantai kereta. Ada yang pura-pura tertidur ketika ada pengemis di depannya. Ada yang menempel-nempelkan badannya ke lawan jenis di sebelahnya dengan alasan,mengikuti irama kereta. Ada pula yang sempat-sempatnya memikirkan sedang apa mereka. Semua itu manusia, sebagaimana saya, makhluk yang bisa menjadi apa saja.

*

Kala itu, tiap bintang sudah mengalami fase membuat alam semestanya sendiri. Sebagaimana Matahari yang dikiblati delapan planet serta anggota keluarganya. Tiap bintang sudah mesti menentukan garis edarnya sendiri, agar tidak bertabrakan dengan semesta lainnya. Sudah saatnya menentukan hendak menjadi apakah kita, apakah bintang yang terus berpijar, yang tak kunjung padam. Atau terhempas menjadi komet yang habis terbakar di angkasa.

Akan tetapi, dalam perkembangan semesta yang kian mengembang, memungkinkan bintang tadi dapat bertemu dengan bintang lainnya yang membentuk galaksi baru. Galaksi pembelajar yang sama. Kendati manusia sudah bahu-membahu untuk menggali liang filsafat sampai kering, ilmu pengetahuan tidak pernah habis. Bukankah yang ada di dunia tidak lebih dari setiik ilmu-Nya yang sangat melimpah? Yang apabila pohon-pohon di muka bumi ini dijadikan sebagai pena dan air laut dijadikan tintanya, maka tak cukup ilmu pengetahuanNya yang dapat dituliskan.

Bintang tidak pernah mati. Meskipun dalam siklusnya ia akan termakn sendiri oleh massanya, kolaps, dan menjadi lubang hitam yang menyedot apa saja di sekitarnya. Tetaplah ia menjadi titik dari berputarnya semesta.

Berita terakhir yang saya dapat dari sebuah jejaring jagad lembar bertema jaringan sosial, Fahim sudah terbang ke Negeri Sakura. UI menjadi batu loncatannya. Entah bagaimana bintang yang satu ini akan menjalani siklusnya. Yang jelas, semuanya sudah tertulis dalam catatanNya. Saya, teman-teman saya dan kita.

(apabila ada kesamaan nama tokoh dan perwatakan hanyalah fiktif belaka)

Wet early February

onmidesk

Jumat, 01 Januari 2010

tulisan ketujuh

Tulisan ini saya buat alam rangka memenuhi tugas menulis dari teman-teman saya di grup holic-holic an.. Sebuah group yang dibikin untuk terus menyemangati mereka yang mulai jarang menulis, seperti saya.. :D
Yah..merenung dua jam dan inilah hasilnya..
Happy new year!! Ahh!! bukaaannn..happy reading!! -_-"


PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

2010

Tahun baru yang identik dengan perayaan pergantian tahun telah menjadi bagian dari budaya bagi masyarakat Indonesia. Semua seakan ingin melepas kepergian tahun 2009 yang akan berganti dengan dekade pertama di millennium ketiga. Menyulut mercon atau kembang api bersama-sama di lapangan terbuka, tempat berkumpul orang-orang, bahkan di depan sebuah Taman Makam pahlawan, seperti kemarin yang saya lakukan dalam rangka menemani kedua teman saya.

Bagi saya, pergantian tahun mempunyai beberapa arti tersendiri. Menurut hemat saya, waktu tidaklah berarti apabila tidak ada penanda awal atau akhirnya. Waktu ada karena ada peristiwa awal yang menjadi dasar penghitungmunduran suatu masa. Waktu, sebagaimana ruang, merupakan sebuah dimensi tersendiri bagi manusia. Membahas sedikit tentang apa itu waktu, telah menjadi misteri sepanjang sejarah umat manusia. Para kaum materialis bahkan menggunakan waktu untuk menghancurkan logika agama. Mereka bertanya; “Ada apa sebelum alam semesta?”.

Pendukung teori bigbang menjawab;”Ada ledakan besar”

“Ada apa sebelum ledakan besar?”

“Ada Tuhan”

“Lalu, sebelum Tuhan ada apa?”

“Tidak tahu.”

“Mengapa tidak kau hemat saja jawaban untuk pertanyaan “Ada apa sebelum alam semesta” dengan pertanyaan “Tidak tahu” saja?”

Begitulah sekiranya kalau kita mempelajari suatu pengetahuan tanpa landasan agama. Yang bahkan bagi mereka, agama adalah hanya kebenaran relatif saja.

Kebenaran yang sampai saat ini masih saya yakini tentang dimulainya penghitungmunduran waktu umat manusia adalah ledakan besar yang menandakan sebuah ketiadaan menjadi sesuatu yang ada, yaitu alam semesta. Dan sebagai manusia yang meyakini tentang hal ini tentunya harus berdasar kepada acuan tertentu. Karena sebuah pernyataan akan dianggap sebagai suatu opini manakala tidak ada bukti pendukung tentangnya, dan sungguh celakalah yang menyebut apa yang bersumber dari kitab Suci Al-Qur’an adalah suatu kebohongan.

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiyaa’, 21: 30)

XXX

Pergantian tahun mempunyai arti penting. Pertama, kita berarti telah melewati suatu fase menuju fase baru yang tentunya kita harapkan menjadi lebih baik dari fase sebelumnya. Baik itu tahun baru Islam (Hijriyah) yang berdasar dari momentum besar berpindahnya dakwah Rasulullah SAW untuk menuju kepada fase dakwah yang lebih baik atau sekedar pergantian dari peringatan tahun baru dimasa Romawi kuno yang dirayakan tiap 1 Maret menjadi 1 Januari yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582.

Bagi saya, apa-apa yang sudah terjadi di tahun 2009 merupakan sebuah rangkaian mosaik yang akan saya lanjutkan di tahun 2010. Karena memang, kehidupan adalah sebuah rangkaian peristiwa yang saling bertautan dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Dan sudah sewajarnya apabila saya mengharapkan di tahun yang baru memperoleh kebaikan-kebaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Mungkin ini yang disebut dengan resolusi. Kata resolusi adalah serapan dari bahasa Inggris, yaitu resolution yang menurut kamus Inggris versi Oxford mempunyai beberapa arti/makna. Salah satu maknanya adalah : something one makes up one's mind to do, sesuatu yang membuat satu pikiran untuk melakukan. Arti lainnya adalah tekad, janji atau komitmen yang ingin diraih atau diwujudkan oleh seseorang. Cukup menarik apabila kita dihadapkan pada pertanyaan; “Apa resolusi untuk tahun 2010.?”, sejujurnya saya pribadi enggan untuk menjawab pertanyaan ini. Sama halnya apabia saya diharuskan untuk menjawab pertanyaan; “Apa rencana sepuluh tahun ke depan dan bagaimana Anda mewujudkan rencana itu.?” Bukannya saya seseorang yang tidak mempunyai tujuan ataupun prinsip hidup, akan tetapi sebuah rencana hidup, menurut hemat saya tidk perlu untuk diberitahukan kepada banyak orang, cukup komitmen kepda diri sendiri atau dengan orang-orang yang memang nantinya akan hidup bersama dengan kita. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pemikiran tersebut. Pertama, life full of uncertainty. Begitukah? Ya, hidup penuh dengan ketidakpastian. Kita memang hanya bisa berusaha, dan kepastian mengenai bagaimana hasil dari usaha kita tercapai apabila kita mengikuti hukum-hukumNya. Dan hukumnya yang nampak tidak semuanya tercapai oleh akal kita. Alih-alih memperbaiki diri untuk fase kehidupan berikutnya malahan hanya terpaku pada rencana-rencana yang belum pasti. Untuk itu, apabila hanya sebuah janji kepada diri sendiri saja agaknya saya tidak usah memakai kata resolusi. :P

Secara abstrak, harapan saya di tahun yang baru berjalan ini sama dengan harapan dari kebanyakan orang. Bukan berarti saya seorang plagiat atau copycat. Tapi tak lebih dari sekedar mencoba menyerap pemikiran semua orang yang berinteraksi dengan kita. Saya serap semuanya, yang baik maupun yang buruk, kemudian saya keluarkan hasilnya. Untuk itulah dibutuhkan proses. Seringkali saya berpikir, mana yang lebih penting antara proses atau hasil? Lebih banyak saya menjawab proses, karena menurut pendapat kebanyakan orang proses yang baik akan menghasilkan suatu hasil yang baik. Tapi belakangan saya memikirkan kemungkinan jawaban “hasil”. Ini terkait satu bulan yang penuh pekerjaan dimana pertama kalinya saya ditempatkan di Instansi saya bekerja. Yang penting hasilnya, target penerimaan, target penyerapan anggaran. Walaupun nantinya menggunakan cara yang kurang prosedural. Tapi saya cukup terhibur ketika mendengar ceramah khatib shalat jumat yang menyebutkan: “Allah menilai proses kita, bukan hasil yang kita capai.”

Oleh karena itu, benar juga apabila ada yang mengungkapkan “enjoying d'process.. become better and wiser.. coz life is a never ending learning.” Yaa.. memang sebuah proses sudah semestinya kita nikmati perjalanannya, karena hidup adalah pembelajaran yang tak pernah habis. Asalkan, tidak lupa kepada tujuan kita karena terlalu lama menikmati proses :P

Serta, dalam menjalankan harapan-harapan dan rencana-rencana hidup kita dibutuhkan komitmen dan konsistensi. Dua buah kata yang menjadi momok bagi saya. Boleh jadi saya sudah bekomitmen tentang suatu hal, tapi seringkali tidak konsisten (istiqomah) dalam menjalaninya. Mungkin inilah yang menjadikan saya masih menjadi orang biasa sampi detik ini. Berbicara mengenai teori, konsistensi dapat saya peroleh apabila ada motivasi untuk terus melakukan suatu komitmen, baik motivasi internal, eksternal ataupun eksistensial (yang terakhir cuman kadang2 loohh..). Adanya motivator hampir sebuah kewajiban bagi saya :D. Ini wajar, manusiapun berbuat baik di dunia karena ada motif-nya, yaitu pahala yang berujung pada surga.

Agaknya saya harus lebih memaknai pergantian waktu. Berusaha membijaki semua peristiwa yang terjadi. Mencoba menganggap wajar hal-hal yang terjadi selama ini dengan mengerti mengapa itu semua bisa terjadi. Berhenti untuk mengeluh dan menggerutu, lebih baik memperbaiki apa yang kita keluhkan atau gerutukan (terdengar aneh kata ini :p). Berusaha tetap pada koridor yang telah disyariatkan, karena koridor lebih jelas daripada jalur tengah yang lurus dari suatu jalur. Tetap bermimpi, akan tetapi mencoba membuat mimpi serealistis mungkin sehingga apabila bisa saya raih, saya gembira karenanya dan apabila tidak bisa saya raih saya tidak kecewa karenanya.

Bismillaah..


Rabu, 30 Desember 2009

tulisan keenam

Tulisan ini saya buat setelah saya menyelesaikan studi saya di kampus STAN. Settingnya adalah, ketika saya magang di KPP Patama Cilacap (kiye setting cerita apa setting pas nulis kiyee?? :D).
Saat itu, saya sering berinteraksi dengan lawan jenis yang mempunyai umur (atau jenjang pendidikan, atau tingkat pemikiran) di atas saya. Entah mengapa, selalu ada ketertarikan terhadapnya. Mungkin tepatnya kekaguman, ketika kita belum bisa berbuat seperti apa yang sudah teman kita perbuat, apalagi wanita. Munculnya kekaguman inilah yang menyebabkan perasaan yang lain. Bukan berarti cinta, karena pada dasarnya hanya rasa suka terhadap objek yang mereka hasilkan. tapi bukan suka biasa, suka yang hanya "like" atas pemikiran-pemikiran atau cara berkomunikasi dengan mereka.
Dan saat merenung (inilah sebenarnya yang membuat saya bisa menulis), muncul kata terlintas dalam pikiran saya: Virga. sempat sedikit beradu argumen mengenai arti dari kata ini dengan teman-teman saya.. kalau dalam kamus Oxford (kamuse ketinggalan nang umah kiyee..) kurang lebih artinya adalah "hujan yang tidak sampai ke bumi, yang butiran-butirannya menggantung di lanit yang menyebabkan sebuah pelangi di langit. biasanya terjadi di daerah panas dan kering, seperti California" penjelasan kedua adalah "streak in the heaven" yang dalam google translate kurang lebih artinya lapisan di langit..

VIRGA

Adalah cinta, yang datang tanpa kendali kita, yang imanen dalam harapan, yang membuat manusia tak ingin statis..

Itulah yang kurasakan sekarang. Perasaan yang membuncah dalam hati ini, yang ingin segera pecah untuk diungkapkan kepada seseorang, Virga. Paras yang sesuai namanya, bagaikan kilatan cahaya dalam surga. Wanita mandiri, cerdas dan berwibawa. Pernyataan bahwa: kebanyakan wanita cantik di negeri ini berotak ayam, karena mereka hanya memikirkan kecantikannya telah gugur dengan premis: Virga adalah wanita yang berparas jelita dengan otak yang luar biasa! Dengan tambahan; anggun dan elegan..

Aku pertama mengenalnya sewaktu mengikuti kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi awal semester dua ini. Seorang dosen muda yang enerjik, menjelaskna dengan semangat tentang teori permintaan-penawaran.

”jadi kalau permintaan naik, bagaimana pengaruhnya dengan harga, Nat?”, ia menunjukku yang waktu itu duduk paling depan pada baris kedua.

”....”

Aku hanya terdiam. Memang sedari tadi aku hanya memperhatikan gerak bibir dan lakunya. Kata-kata yang keluar dari bibirnya seperti alunan musik yang baru pertama kali kita dengar. Kau pasti tau Kawan, sangat enak didengar, tapi kalau kita disuruh menyanyikannya kembali pastilah kita tidak bisa. Dan hasilnyapun aku tidak bisa menjawab pertanyaan termudah di semester ini. Ah, biarlah teman-teman menertawakanku. Paling tidak, aku mendapatkan kebahagiaan karena telah disapa oleh dinda bestariku. Disekelilingku seakan-akan bunga seribu rupa berhamburan, mewangi, merekah dan menyejukkan... oh, indahnya...

^_^

Aku bukanlah seorang perasa yang baik. Maksudku, seorang yang bisa memahami sesuatu dengan perasaan atau orang yang bisa mengerti perasaan. Karena, menurut hematku, setiap masalah pasti dipecahkan dengan menggunakan logika yang berasal dari otak kita. Akan tetapi, semenjak aku mengenal rasa yang memberikan sensasi bunga mekar disekelilingku, kusempatkan untuk mengganti topik diskusiku dengan teman-teman.

”Coba jelaskan kepadaku apa itu cinta?”, tanyaku pada kesempatan waktu sore hari di taman kampus.

Teman filsafatku menjawab,”Cinta adalah suatu rasa yang abstrak yang dirasakan oleh mereka yang mencinta, sebagai akibat dari perbuatan ingin memiliki dan suka terhadap suatu objek”.

Ah, mbulet..pikirku

”Yang kutanyakan, jadi apa definisi cinta itu?apa parameternya? Standarnya apa sampai kita bisa berucap; itu cinta?”

”jadi gini, karena rasa ini abstrak, variasi yang ditimbulkan antara satu orang dengan orang lain pastilah tidak sama. Akan tetapi, bagi mereka yang merasa jatuh cinta pasti merasakan hal yang sama yaitu rasa suka yang membuncah dalam hati, rasa yang ingin memiliki.”, teman sastraku-yang sok tau- menimpali.

Aku belum merasa puas. ”Contoh nyata orang yang merasa jatuh cinta ada yang rela memberikan apa saja bagi orang yang dicintainya. Ada juga yang menganggap cinta adalah making love, atau ada yang beranggapan cinta itu suci yang mesti dijaga kesuciannya. Jadi apa point-nya?”

Aku sering mengikuti diskusi-diskusi ilmiah, jadi harus kupastikan ada satu poin yang pasti dari obrolan kali ini.

”Semua yang kausebutkan tadi adalah akibat dari rasa suka atau kagum terhadap objek. Rasa itulah yang membuatmu melakukan suatu tindakan yang menyebabkan akiibat-akibat yang kau sebutkan tadi..ck..ck..ck”, makin sok saja teman sastra berkacamata ini.

”Tetap saja. Aku tidak bisa menangkap substansi dari cinta. Apa itu cinta sebenarnya dalam definisi kata.”

obrolan sore itu tidak berbuah kesepakatan. Karena memang sedari awal aku sudah menduga bahwa cinta mempunyai banyak sekali arti sehingga aku tidak menemukan substansi. Ah, cinta...

^_^

Sebenarnya ingin sekali kuungkapkan rasa hati ini kepada Virga. Semakin cepat aku ungkapkan semakin baik untuk diriku. Daripada aku tersiksa dengan ketidakpastian ini. Aku tidak membutuhkan jawaban. Yang kuinginkan hanyalah menyatakan apa yang ada dalam hatiku ini. Itu saja, tidak kurang tidak lebih. Inilah ujian cinta sebenarnya menurutku. Menyatakan isi hati dan rasa suka ini kepada orang yang disukai. Bukan untuk mengharapkan jawaban iya, tidak juga untuk mendapat jawaban tidak. Ah, susah sekali rasanya.. Intinya, aku ingin mengungkapkan rasaku padanya. Sudah itu, habislah. Biarlah nanti waktu yang menjawabnya.

Semakin lama rasa ini kupendam semakin rasa ini membuncah dalam hatiku dan akhirnya pecah menjadi bulir-bulir yang terus sesaki aku. Hukum kepuasan yang semakin berkurang nampaknya tidak berlaku untuk rasa ini. Hukum yang menyatakan semakin benda untuk memenuhi keinginan kita lama-kelamaan kepuasan kita akan benda tersebut semakin berkurang. Lihatlah orang yang haus, ketika kita beri seteguk-dua teguk ait, tentunya memberikan kepuasan yang sangat kepadanya. Akan tetapi, setelah 4 gelas tentunya ia akan merasa muak dengan air itu. Tapi rasaku akan cinta ini semakin lama justru semakin menjadi. Rasa-rasanya aku tidak merasa puas jika hanya memandang wajahnya atau bercakap dengannya di sesi diskusi tambahan. Aku ingin menuntaskannya dengan menyatakan sesungguhnya apa yang kurasa. Tak peduli status dia sebagai dosen dan aku sebagai mahasiswa. Tak peduli dengan perbedaan umur kami. Dan tak peduli jika akhir-akhir ini ia menggandeng seorang anak perempuan berumur 2 tahunan.

Kelimunan ini aku hiraukan, hanya diri yang berkelindan sepi terdiam memagut mimpi. Adakah kau mengerti, sengkarut ini yang terus menyiksa hati...

^_^

Mungkin kau bertanya, Kawan, mengapa aku mencintai Virga. Selalu ada penjelasan untuk suatu hal di sunia ini. Terkadang suatu akibat timbul dari sebab-sebab yang mana sebab itu juga timbul dari suatu akinat sebelumnya, terus begitu, tanpa akhir. Rasa kagumku terhadap wanita mandiri dan berpikiran dewasa telah terpupuk sedari remaja. Sayangnya, sikap mandiri dan pemikiran yang matang biasanya ada pada wanita yang sudah mempunyai umur di atasku. Itulah sebabnya mengapa aku lebih suka kepada wanita yang mempunyai umur di atasku. Tua memang pasti, tapi dewasa adalah pilihan, kata suatu iklan. Tapi sejauh ini yang kutemui; wanita dewasa adalah wanita yang sudah berumur..

Suatu ketika aku menanyakan kecenderunganku ini kepada teman psikologiku.

”Bagaimana pendapatmu tentang kecenderungan orang yang menyukai lawan jenisnya dengan usia yang lebih tua?”

Dia menjawab,”Menurutku, untuk wanita yang menyukai lelaki dengan usia di atasnya adalah hal yang wajar. Karena, pada dasarnya wanita lebih cepat tumbuh dewasa dibandingkan dengan laki-laki”

”Bagaimana jika sebaliknya?”, aku menimpali.

”Maksudmu, lelaki yang menyukai wanita dengan usia di atasnya? Yah, memang ada kecenderungan yang seperti itu, oedipus complex namanya. Biasanya terbentuk karena si lelaki merindukan kasih sayang dan cinta seorang ibu. Tapi kasihan juga si lelaki nantinya. Ketika dia masih mempunyai kekuatan, istrinya sudah bersiap untuk beristirahat bagai bunga yang mengeriput dan layu..hahaha..”

Dasar calon psikolog sinting, pikirku.

dia melanjutkan, ”kecintaan terhadap wanita dengan usia di atas biasanya terjadi karena rasa kagum. Rasa kagum tersebut lama-lama berubah menjadi rasa suka yang bermetamorfosis menjadi cinta. Eh, Nat. Jangan-jangan kau yang mengalaminya?? Hahahaha....”

aku tidak mempedulikan gurauannya-atau pernyataan tentang kenyataan-, dan pergi begitu saja.

Setelah kupikir, benar juga pendapatnya. Rasa yang timbul saai ini berawal dari rasa kagumku terhadap Virga. Rasa kagum terhadap kecerdasannya dan parasnya tentunya. Tapi tetap, kecerdasannya...yang didukung oleh kecantikan paras juga.... Rasa kagum yang berubah menjadi rasa suka untuk memperhatikannya,. Rasa antusias jika bertanya atau berdiskusi dengannya. Rasa gemetar jika menerima boardmarker untuk mengerjakan soal di muka kelas. Dan hamburan bunga seribu rupa yang mewangi, merekah dan menyejukkan jika dia menunjukku.. oh, indahnya...

^_^

Pikiranku terganggu akhir-akhir ini dengan kehadiran perempuan kecil disampingnya. Siapakah dia sebenarnya? Putinyakah? Atau keponakan yang dititipkan kepadanya? Terkadang dia membawa perempuan kecil itu ikut mengajar di kelasnya. Terlihat lucu, memeluk pinggang Virga jika Ia berdiri dan bilang; ”Ma, Nai pingin pipis ma...”

Hah?! Mama??!! Aku langsung tersentak. Perempuan kecil tadi memanggil Virga Mama, berarti dia anaknya dan dengan begitu Virga telah bersuami? Oh, Tuhan.. Seketika itu juga aku merasa duduk sendiri di ruang kelas yang kosong dan sunyi. Senyap yang hanya kudengar. Dan tiba-tiba sebuah balok kayu sebesar ukuran tangan manusia menghantam tanganku, membuyarkan kesunyian ini..

”Heh, ngelamun saja!!”, Anto yang duduk di sampingku menninju lenganku.

Sial.....

Begitu sesi kuliah selesai aku menuju perpustakaan untuk mendapatkan akses internet. Langsung kutuju, kuketikkan alamat situs kampus ini, mengklik Fakultas Ekonomi dan mengklik link Dosen dan Staf Pengajar. Muncul satu deret entry nama yang memenuhi layar. Aku tekan Ctrl+F dan masukkan keyword: Virga. Bingo!! Aku klik link ke informasi personalnya.

Nama : Virga Veranita

Tempat, Tanggal Lahir : Surakarta, 16 September 1984

Mata kuliah : Pengantar ilmu Ekonomi, Akuntansi Keuangan Menengah,

Auditing

.....

.....

Status Perkawinan : Kawin

Sudah cukup sampai di situ, ketika aku kembali merasakan kehampaan. Sekelilingku terasa sunyi sekali. Komputer-komputer dan rak-rak buku berubah menjadi batu besar yang membisu. Orang-orang yang berlalu lalang laksana pepohonan hitam yang menambah suram suasana padang savanna. Sampai terakhir kuingat ada ular berukuran sebesar tangan manusia hinggap di bahuku. ”Mas, gantian komputernya....”

Kadang harapan tidak selamanya sesuai dengan kenyataan. Walaupun ayahku sering bilang kalau harapan adalah awal dari mimpi, dan mimpilah yang membimbing kita untuk mewujudkannya. Aku kehilangan kendali atas diriku. Paska kejadian aku mengerti status perkawinan Virga, aku merasa tidak bersemangat. Entah kenapa aku merasa tidak rela. Aku belum sempat mengutarakan isi hatiku padanya. Belum sempat mengetahui bagaimana reaksinya terhadapku. Wajahku muram, hatiku kelam dan pakaikanku kumal. Dalam kesempatan obrolan dengan teman-temanku berikutnya mereka mencoba membaca pikiranku.

”Nat, apa yang terjadi denganmu?”, teman filssafatku, yang memang baik, mencoba memecah kemurunganku.

Sebenarnya enggan bagiku untuk menceritakannya. Lagian, aku bukanlah orang yang sabar untuk mendengarkan orang lain bercerita. Kali ini justru akulah yang akan bercerita untuk mengungkapkan apa yang mengganjal hatiku. Aku mengerang.

Aku mulai dengan pertanyaan,”Kenapa cinta disebut indah jika ia pada akhirnya hanya meninggalkan luka?”

Teman sastraku-yang sok tau- menjawab,”Cinta itu fase relatif yang absolut, Nat..” sial, dia mencoba memakai bahasa teknis..”Relatif, karena kamu dan kita akan merasakan perasaan yang berbeda-beda mengenainya dan menghadapi kondisi serta akibat yang berbeda-beda. Absolut, karena pasti cinta itu akan datang kepada kita semua. Tak peduli apa rupa, bentuk, sebab dan akibatnya nantinya.. Dengan begitu..sensasi yang..”

”Cukup-cukup..” Aku sudah mengerti akan dibawa kemana penjelasannya. Tak jauh-jauh dari penjelasannya pekan kemarin.

”Jadi yang mana yang kaualami?”, teman filsafatku bertanya.

”Aku mencintai wanita yang telah bersuami...”, jawabku lirih.

”Wadefak....”, teman sastraku mengumpat pelan. Kata yang tidak ada artinya di kamus manapun, tapi pelafalannya cukup jelas untuk menjelaskan ucapan umpatan yang berasal dari bahasa Inggris.

”Yah, aku tahu itu konyol. Tapi ini benar-benar menimpaku. Seperti yang telah kaujelaskan mengenai definisi cinta. Aku serasa limbung karenanya”, aku melanjutkan.

Teman psikologiku bertanya,”Terus apa yang akan kaulakukan? Ternyata benar ya, dugaanku kau mengidap kecenderungan itu?”, kecenderungan yang ia jelaskan waktu aku bertanya tentang rasa suka terhadap orang yang diatas umurku, maksudnya.

”Aku akan tetap mengungkapkan rasaku padanya. Meskipun ia telah bersuami. Aku tak peduli apa jawabannya, dan tak peduli apa reaksinya. Aku hanya ingin mengunggapkannya. Itu saja”,jawabku.

”Terkesan platonik. Ya, cinta platonik..”, tukas teman sastraku-yang sok tau. Aku mengerang. Apa lagi ini...

”cinta yang tidak mempedulikan tujuan. Cinta yang...yah, hanya suka sama suka. Tanpa perlu pusing dengan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.Ah, terlihat sangat apriori..masa bodoh..”

”Bukan itu yang kmaksud!!”, aku menyergah. ”Kalaupun dia belum terikat oleh perkawinan seperti sekarang ini, tentunya aku akan berani untuk membuat suatu komitmen. Asal kau tahu saja, aku hanya ingin terbebas dari rasa ini”

”Baiklah, jadi sekarang, sarsanku, silahkan kau ungkapkan rasa itu. Secara psikologis hatimu akan lega meskipun kau sudah secara nyata mengetahuin apa hasilnya. Paling tidak, kau tidak menyesal karena memendam rasa itu”, teman psikologiku memberi saran.

”Ngomong-ngomong, siapa yang kaucintai?”

”Virga...”, jawabku pelan.

Ketiga temanku mengumpat pelan dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

^_^

Pada akhirnya kubulatkan tekadku menemui Virga untuk mengatakan padanya isi hatiku. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi yang terjadi. Sudah siap jika aku ditegur dengan keras, diadukan ke rektorat karena perbuatan kurang ajar terhadap pengajar atau tidak diluluskan dalam mata kuliahnya. Aku mencoba memahami sepenuhnya bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki secara fisik. Karena pada dasarnya, ia hanyalah kata abstrak, sehingga tidak satupun manusia dapat merasakan hal yang sama. Tapi aku masih yakin kalau cinta bukanlah kata benda, melainkan kata kerja, yang harus dilakukan, bukan untuk dimengerti. Aku mencoba kembali memakai logikaku yang akhir-akhir ini kusampigkan karena terlalu menggunakan perasaan. Kupikirkan kembali semua kejadian ini ditinjau dari pemikiran normalku. Tapi cinta tidak pernah mengenal logika. Ah, benar saja...

Akupun larut dalam hujan sore ini. Murung dalam mendung yang temaram..

Hatiku meluruh bersama hujan..

Melarung hanyut bersama alirnya air..

Masih terngiang dalam benakku, bulir-bulir rasa bahagia, senyuman tentang harapan, dan harapan tentang masa depan...

^_^

Aku sudah menentukan saat terbaik untuk menemui Virga. Ya, hanya saat ia keluar dari ruang dosen setelah selesai mengajar hari ini. Ruang dosen yang berada pada ujung koridor. Cukup tersembunyi untuk dilihat oleh makhluk-makhluk lain yang tidak berkepentingan. Tinggal sekarang, apa yang harus kuungkapkan? Ah, biarlah nanti setelah aku bertemu dengannya..

Jantungku berdetak beberapa hentakan lebih keras dari biasanya. Pintu ruangan dosen terbuka sedari tadi. Aku terus memandanginya. Tak lama kemudian sesosok perempuan paling cantik di negeriku Indonesia melangkah keluar dari ruangan. Suara berdetak yang timbul dari hentakan sepatu pantovel-nya yang membentur lantai keramik membuat jantungku semakin berdegup lebih kencang. Aku memaku. Ia terlihat muram, berjalan dengan pandangan menyusur ke bawah. Sampai jaraknya cukup dekat denganku, aku menyapanya.

”VI..Virga, bisakah kita bicara sebentar?”, aku memang sudah terbiasa menghilangkan embel-embel Bu atau Dosen di depan namanya. Itu karena kehendaknya sendiri sewaktu sesi diskusi tambahan sering kami laksankan. Dan memang, dia dan aku kerap berdiskusi lebih sering dari siapapun.

”Ya, Nat? Apakah ini tentang kuliah?”, ia menghentikan langkahnya dan merapat ke samping tempatku berdiri. Aku ragu sebentar, kemudian kutegakkan kepalaku untuk menatapnya.

”Eh..yah..mungkin ini kedengarannya konyol. Emm,, dari pertama kali aku mengenalmu aku merasakan hal yang aneh.. Emm,,aku kagum terhadapmu”, wajahku tersipu.

”maksudmu, Nat? Ayolah, tidak biasanya kau begini..”

”Aku mencintaimu Virga..”

seketika itu juga terdapat kebisuan yang cukup lama. Aku tertunduk. Sedangkan Virga hanya termangu. Bibirnya terkatup sedang matanya menatapku prihatin.

”Natan..”, ujarnya lirih, ”kau tidak salah mempunyai rasa cinta. Kau pun tidak salah jika mencintai..akan tetapi kau mencintai objek yang salah. Saat ini aku sudah bersuami dan kau tahu sudah ada Nai sebagai pengikat di antara kami. Meskipun aku tidak merasa bahagia sekarang. Sejujurnya, Nat..aku kagum pada dirimu dan tentunya aku akan sangat tersanjung apabila hal ini terjadi beberapa tahun lalu...”

”Maafkan aku, Nat..kondisiku yang tidak bisa menerimanya”

tak kusangka reaksi seperti ini yang kuperoleh darinya. Sungguh wanita yang mempesona. Aku tetap membisu.

”Nat, cinta bak kurva elastisitas sempurna. Dia akan berdiri kokoh pada satu titik berapapun rasa itu menggelegak. Seringkali membuncah dalam hati, tapi tak jarang hancur berkeping-keping. Itulah cinta, Nat. Kuharap, kau bisa menemukan pijakan yang tepat”, Virga bergegas melangkag meninggalkanku yang tetap terdiam dan tertunduk lesu. Kudengarkan detak langkah kepergiannya sampai ia berbelok di seberang koridor sampai tinggal kesunyian yang menemaniku.

Akupun kini sedikit lebih memahami sebuah kata yang mahadahsyat, cinta. Virga mungkin bukan takdirku. Seperti namanya, ia bagai hujan yang menguap di awan, tidak sempat untuk jatuh ke bumi. Meninggalkan guratan-guratan indah di angkasa, tetapi meninggalkan bumi yang kering.. sekering jiwaku.

Adalah mimpi, yang datang tanpa kendali kita, yang imanen dalam harapan, yang membuat manusia tak ingin statis..